Renungan Harian

Selamat Datang di Embun Pagi

Embun Pagi adalah renungan harian yang hadir untuk menyegarkan jiwa dan memperkuat iman Anda setiap pagi. Melalui firman Tuhan, kita diajak untuk merenungkan kebenaran ilahi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."
— Mazmur 119:105

Mari mulai hari Anda dengan membaca renungan dan merenungkan quotes inspiratif. Biarkan Roh Kudus menuntun langkah Anda hari ini.

Engkaulah perlindunganku pada hari malapetaka.
Yeremia 17:17

Jalan orang Kristen tidak selalu terang oleh sinar matahari; kadang-kadang dia mengalami saat-saat gelap dan badai. Benar, ini tertulis di dalam Firman Allah, “Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata;” [Amsal 3:17] dan ini adalah kebenaran yang besar, bahwa agama diperhitungkan sebagai hal yang memberikan manusia kesenangan di bawah dan juga kebahagiaan di atas; tetapi dalam pengalaman kita, jika jalan orang benar “seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari,” [Amsal 4:18] terkadang cahaya itu terhalangi. Pada saat-saat tertentu awan menutupi matahari orang percaya, dan dia berjalan di dalam kegelapan dan tidak melihat cahaya. Banyak orang yang telah menikmati saat-saat kehadiran Allah dalam suatu musim; mereka telah mandi cahaya pada perjalanan awal sebagai orang Kristen; mereka telah berjalan pada “padang yang berumput hijau” di sebelah “air yang tenang,” [Mazmur 23:2] tetapi tiba-tiba mereka mendapati langit yang mulia itu berawan; alih-alih Tanah Gosyen mereka harus menjalani gurun pasir; alih-alih air manis, mereka menemukan aliran air yang bergelora, pahit rasanya, dan mereka berkata, “Tentunya, jika aku anak Allah, semua ini takkan terjadi.” Oh! janganlah berkata demikian, hai engkau yang berjalan di dalam kegelapan. Yang terbaik dari orang-orang kudus Allah harus minum empedu; anak-anak Allah yang paling dikasihi harus menanggung salib. Tidak ada orang Kristen yang terus-menerus menikmati kemakmuran; tidak ada orang percaya yang selalu bisa menjaga kecapinya dari pohon gandarusa [1]. Mungkin Tuhan pada mulanya memberikan jalan yang lancar dan tidak berawan, karena engkau lemah dan penakut. Tuhan membatasi angin yang menerpa domba yang baru saja dicukur, tetapi sekarang saat engkau sudah lebih kuat dalam kehidupan rohani, engkau harus memasuki pengalaman yang lebih matang dan kasar sebagai anak-anak Allah yang sudah dewasa. Kita membutuhkan angin dan badai untuk melatih iman kita, untuk mematahkan dahan busuk ketergantungan pada diri, dan untuk membuat kita berakar lebih kuat dalam Kristus. Hari malapetaka menunjukkan kita nilai dari pengharapan kita yang mulia.

[1] Menggantungkan kecapi pada pohon gandarusa, merupakan ungkapan kesedihan dalam Mazmur 137:2 saat umat Israel dibuang ke Babel.

Ayat Selengkapnya: Yeremia 17:17, Janganlah Engkau menjadi kedahsyatan bagiku, Engkaulah perlindunganku pada hari malapetaka.

Doa
Bapa, saat hidup terasa berat, ingatkan aku bahwa Engkau tetap jadi perlindunganku. Kuatkan imanku dan ajar aku tetap percaya di tengah badai. Amin.
"
“Kekhawatiran tidak mengosongkan kesusahan hari esok, tetapi hanya mengosongkan kekuatan hari ini.”
— Corrie ten Boom